Empat Kunci Rumah Tangga

ada empat hal yang mesti diperhatikan untuk menciptakan keharmonisan rumah tangga.keempatnya adalah:

1. Jangan melihat ke belakang

Jangan pernah mengungkit-ungkit alasan saat awal menikah. “Kenapa saya waktu itu mau nerima aja, ya? Kenapa nggak saya tolak?” Buang jauh-jauh lintasan pikiran ini.

Langkah itu sama sekali tidak akan menghasilkan perubahan. Justru, akan menyeret ketidakharmonisan yang bermula dari masalah sepele menjadi pelik dan kusut. Jika rasa penyesalan berlarut, tidak tertutup kemungkinan ketidakharmonisan berujung pada perceraian.

Karena itu, hadapilah kenyataan yang saat ini kita hadapi. Inilah masalah kita. Jangan lari dari masalah dengan melongkok ke belakang. Atau, na’udzubillah, membayangkan sosok lain di luar pasangan kita. Hal ini akan membuka pintu setan sehingga kian meracuni pikiran kita.

2. Berpikir objektif

Kadang, konflik bisa menyeret hal lain yang sebetulnya tidak terlibat. Ini terjadi karena konflik disikapi dengan emosional. Apalagi sudah melibatkan pihak ketiga yang mengetahui masalah internal rumah tangga tidak secara utuh.

Jadi, cobalah lokalisir masalah pada pagarnya. Lebih bagus lagi jika dalam memetakan masalah ini dilakukan dengan kerjasama dua belah pihak yang bersengketa. Tentu akan ada inti masalah yang perlu dibenahi.

Misalnya, masalah kurang penghasilan dari pihak suami. Jangan disikapi emosional sehingga menyeret masalah lain. Misalnya, suami yang tidak becus mencari duit atau suami dituduh sebagai pemalas. Kalau ini terjadi, reaksi balik pun terjadi. Suami akan berteriak bahwa si isteri bawel, materialistis, dan kurang pengertian.

Padahal kalau mau objektif, masalah kurang penghasilan bisa disiasati dengan kerjasama semua pihak dalam rumah tangga. Tidak tertutup kemungkinan, isteri pun ikut mencari penghasilan, bahkan bisa sekaligus melatih kemandirian anak-anak.

3. Lihat kelebihan pasangan, jangan sebaliknya

Untuk menumbuhkan rasa optimistis, lihatlah kelebihan pasangan kita. Jangan sebaliknya, mengungkit-ungkit kekurangan yang dimiliki. Imajinasi dari sebuah benda, bergantung pada bagaimana kita meletakkan sudut pandangnya.

Mungkin secara materi dan fisik, pasangan kita mempunyai banyak kekurangan. Rasanya sulit sekali mencari kelebihannya. Tapi, di sinilah uniknya berumah tangga. Bagaimana mungkin sebuah pasangan suami isteri yang tidak saling cinta bisa punya anak lebih dari satu.

Berarti, ada satu atau dua kelebihan yang kita sembunyikan dari pasangan kita. Paling tidak, niat ikhlas dia dalam mendampingi kita karena Allah sudah merupakan kelebihan yang tiada tara. Luar biasa nilainya di sisi Allah. Nah, dari situlah kita memandang. Sambil jalan, segala kekurangan pasangan kita itu dilengkapi dengan kelebihan yang kita miliki. Bukan malah menjatuhkan atau melemahkan semangat untuk berubah.

4. Sertakan sakralitas berumah tangga

Salah satu pijakan yang paling utama seorang rela berumah tangga adalah karena adanya ketaatan pada syariat Allah. Padahal, kalau menurut hitung-hitungan materi, berumah tangga itu melelahkan. Justru di situlah nilai pahala yang Allah janjikan.

Ketika masalah nyaris tidak menemui ujung pangkalnya, kembalikanlah itu kepada sang pemilik masalah, Allah swt. Pasangkan rasa baik sangka kepada Allah swt. Tataplah hikmah di balik masalah. Insya Allah, ada kebaikan dari semua masalah yang kita hadapi.

Lakukanlah pendekatan ubudiyah. Jangan bosan dengan doa. Bisa jadi, dengan taqarrub pada Allah, masalah yang berat bisa terlihat ringan. Dan secara otomatis, solusi akan terlihat di depan mata. Insya Allah!

Bangkrut Karena Dosa

Dikutip dari KIsah Nur dan Teladan Buat Perindu Surga, oleh Zubaidi Wahyono Rahmat

Suatu hari dalam majelis Rasulullah S.A.W bertanya kepada para sahabatnya.
"Tahukah kalian siapakah yang dinamakan orang yang bangkrut itu?"
Para sahabat yang pada masa itu hidup di tengah masyarakat pedagang menjawab, "Orang yang bangkrut menurut pemahaman kami adalah orang yang kehilangan harta dan seluruh miliknya."

"Bukan", jawab Rasulullah, "Orang yang bangkrut adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala puasanya, pahala zakatnya dan hajinya, namun ketika ditimbang datanglah orang yang mengadu. "Ya Allah, dulu orang ini pernah mendakwa aku berbuat sesuatu padahal aku tidak pernah melakukannya."
Kemudian Allah menyuruh orang yang mendakwa palsu itu untuk membayar orang yang didakwa dengan sebagian pahalanya.
Kemudian datang orang lagi dan mengadu,"Ya Allah hakku pernah diambil orang ini dengan cara yang batil."
Allah menyuruh orang itu untuk membayar dengan pahalanya kepada orang yang mengadu, hingga akhirnya seluruh pahala sholat, puasa, zakat dan hajinya habis untuk dibayar kepada mereka yang pernah dirampas haknya, dizaliminya, dituduhnya dengan alasan palsu. ketika semua pahala ibadahnya telah habis, masih datang lagi orang-orang yang mengadu, meminta pertanggungjawaban orang itu di hadapan Allah. Maka Allah memutuskan agar kejahatan mereka yang mengadu itu dipindahkan kepada orang tersebut.
Itulah orang yang bangkrut di hari kiamat nanti. Ialah orang yang rajin beribadah tapi ia tidak memiliki akhlak yang baik yaitu merampas hak orang lain dan menyakiti hati mereka."

Na'udzubillah..

Pahala Raja Yang Ditangguhkan

aman dahulu kala, ada seorang raja yang amat zalim. Hampir semua orang pernah merasakan kezalimannya itu. Hingga pada suatu ketika, raja yang zalim ini ditimpa penyakit yang sangat berat. Maka seluruh tabib yang ada dikumpulkan supaya menyembuhkannya. Namun, tidak seorang tabib pun mampu menyembuhkannya. Akhirnya, ada seorang rahib yang mengatakan penyakit raja itu hanya dapat disembuhkan dengan memakan sejenis ikan yang hanya ada pada musim tertentu saja. Malangnya, pada saat itu bukanlah musim ikan itu diperoleh.
Betapa gembiranya sang raja mendengar kabar itu. Meskipun ia menyadari bahwa saat itu bukanlah musim ikan yang dicari, ia tetap memerintahkan semua orang untuk mencarinya. Dan ternyata ikan itu berhasil didapat. Raja pun sembuh.

Pada masa yang lain, ada seorang raja yang amat terkenal dengan keadilan dan kebijaksanaannya. Dia sangat dicintai oleh rakyatnya. Pada suatu ketika, raja itu juga jatuh sakit. Dan ternyata obat penyakitnya sama dengan obat raja yang zalim. Rakyat sangat ingin raja itu segera sembuh. Tapi tak seorangpun yang menemukan ikan itu. Akhirnya sang raja pun meninggal.

Para malaikat yang menyaksikan kehidupan kedua raja itu pun heran mengapa raja yang zalim bisa mendapatkan obat, sementara raja yang baik gagal mendapatkannya.
Akhirnya para malaikat pun menghadap Tuhan dan bertanya, "Ya Tuhan kami, apakah sebabnya raja yang zalim itu selamat sedangkan raja yang adil meninggal?"

"Wahai para malaikatKu, sesungguhnya raja yang zalim pernah berbuat suatu kebaikan, karena itu Aku balas kebaikannya. Sehingga pada waktu dia datang menghadapKu, tidak ada lagi kebaikan yang dibawanya. Dan akan Aku tempatkan ia di neraka yang paling dalam.
Sedangkan raja yang adil itu pernah berbuat salah kepadaKu. Maka Aku hukum ia sehingga nanti ia akan datang menghadapku dengan seluruh kebaikannya tanpa ada sedikit pun dosa padanya, karena hukumannya telah kutunaikan di dunia."

Islam dan Hidup yang Ceria

Manusia kerap kali didera rasa pengat dan letih lantaran rutinitas kehidupan sehari-harinya. Untuk bisa lepas dari kondisi semacam itu, kita perlu membagi waktu khusus guna melakukan refreshing dan rekreasi, sehingga jiwa kita pun menjadi lebih ceria dan bersemangat kembali. Sebagaimana tubuh yang memerlukan makanan dan beragam nutrisi lainnya, jiwa manusia pun memerlukan istirahat, rekreasi, dan keceriaan. Rasa gembira merupakan reaksi positif kejiwaan yang muncul di berbagai keadaan. Jiwa yang ceria merupakan hal yang penting dalam menghapus pengalaman buruk yang tak mungkin dihindari seperti kegagalan, keputusasaan, dan perasaan negatif lainnya. Perasaan gembira bisa membantu kesehatan psikologis kembali pulih dan tenang. Imam Ali bin Musa Al-Ridha as menuturkan, "Rekreasi dan permainan yang menghibur, bisa membantu kalian mengatur hidup dan dengannya kalian akan lebih baik memperoleh kesuksesan dalam urusan duniawi."

Para psikologi kini meyakini bahwa kegembiraan dan pikiran yang ceria berpengaruh penting dalam kehidupan manusia. Begitu pentingnya keceriaan bagi manusia sehingga mampu menjadi pengobat sejumlah penyakit. Para psikolog percaya, pada abad terakhir ini, manusia disibukkan dengan dirinya sendiri. Keceriaan bukan hanya bisa mencegah sejumlah penyakit, tapi bahkan mampu menghambat tumbuh berkembangnya beberapa jenis kanker.

Dari sisi ilmu kedokteran, tertawa dan gembira merupakan reaksi reflektif yang menyebabkan bergeraknya 15 otot wajah secara harmonis, dan mempercepat pernafasan serta peredaran darah sehingga menambah adrenalin darah. Efek dari proses ini memunculkan perasaan ceria dan gembira dalam diri seseorang. Jika kehidupan manusia kosong dari rasa ceria, niscaya ia akan mengalami derita yang amat berat lantaran kerasnya tekanan psikologis.

Menghapus rasa duka dan menciptakan keceriaan merupkan hal yang vital baik bagi diri sendiri maupun bagi keluarga dan masyarakat. Karena rasa duka dan ceria tidak hanya terbatas pada pribadi manusia. Keceriaan dan kesedihan seorang manusia bisa berpengaruh juga terhadap orang lain. Rupel Scheldrake, seorang pakar biologi asal Inggris, menyatakan: "Ingatan dan kesedaran manusia tidak hanya tersimpan dalam otaknya. Tapi ada juga sesuatu yang dinamakan "kesadaran kolektif" yang bisa menghubungkan antar sesama manusia lewat kekuatan khusus". Oleh karena itu, kesedihan ataupun keceriaan seseroang berpengaruh juga bagi orang lain di sekitarnya.

Tentu saja, keceriaan merupakan hal yang relatif dan seseorang bisa merasa gembira hanya dalam kondisi tertentu. Sebagian sosiolog meyakini, kalangan kelas bawah masyarakat memperoleh kegembiraanya lewat kesenangan sekilas, seperti menonton sepak bola dan sejenisnya. Sementara masyarakat kalangan menengah atau khusus memperolehnya dengan cara memenuhi keinginan jangka panjangnya seperti menaikkan investasi dan mendapatkan fasilitas hidup yang lebih sejahtera. Aristoteles, filosof Yunani kuno, mengajukan bentuk keceriaan yang lain, yaitu kegembiraan hidup yang diperoleh dari cara hidup yang berpemikiran. Menurutnya, hal itu merupakan level tertinggi keceriaan manusia. Sebagian filosof dan ilmuan lainnya ada pula yang berpendapat bahwa kegembiraan jiwa hanya bisa diperoleh dengan cara hidup yang bermoral dan religius.

Islam sebagai agama universal yang memenuhi seluruh tuntutan jasmani dan rohani manusia mengajarkan bahwa jiwa yang ceria merupakan hal yang vital bagi kehidupan. Islam mengajarkan pula kepada kita cara menciptakan keceriaan yang agamis. Keceriaan yang kadang bermanfaat bagi diri sendiri, dan kadang bermanfaat pula bagi orang lain. Imam Ali bin Musa Al-Ridha as menyatakan, "Waktu kalian terbagi dalam empat sesi. Sesi pertama untuk menyepi bersama Tuhan, sesi kedua untuk mencari rezeki, sesi ketiga bercengkerama dengan saudara dan siapa saja yang kalian percaya dan menyimpan aib kalian, dan sesi keempat sisihkanlah untuk bersenang-senang. Manfaatkan sebaik-baiknya waktu bersenang-senang kalian sehingga bisa membantu dalam menjalankan tugas dan kewajiban kalian".

Salah satu faktor penyebab kegembiraan adalah melakukan rekreasi atau wisata. Rekreasi dan berwayang sehat akan menghasilkan keceriaan yang sehat pula. Bercengkerama dengan alam, menyaksikan pemandangan yang indah, warna-warni bunga yang mempesona, pepohonan yang hijau, air terjun yang eksotis, gunung-gunung, dan pesona alam lainnya merupakan kenikmatan yang bisa membangkitkan rasa keceriaan dan kebahagiaan hati.

RAHASIA-RAHASIA SHADAQAH

Sahabat Hikmah…
Shadaqah merupakan amal yang utama, tetapi apa RAHASIA2 dibalik SHADAQAH?

1. Bersedekah adalah atas HARTA yang DICINTAI

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu KEBAJIKAN, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah BERIMAN kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan MEMBERIKAN HARTA yang DICINTAINYA kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan SHALAT, dan menunaikan ZAKAT; dan orang-orang yang MENEPATI JANJInya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang SABAR dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang BENAR (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang BERTAKWA”. (QS. Al-Baqarah: 177)

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada KEBAJIKAN (yang sempurna), sebelum kamu MENAFKAHKAN sebahagian HARTA yang kamu CINTAI. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (QS. Ali ‘Imran : 92)


2. Bersedekah terhadap orang yang BERHUTANG
Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berfirman:
“Dan jika (orang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah TANGGUH sampai dia berkelapangan. Dan MENYEDEKAHKAN (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.”. (QS. Al-Baqarah: 280)


3. Kepada BINATANG saja bernilai SEDEKAH, apalagi MANUSIA.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya:
“Pada suatu hari yang terik, ada seorang wanita PELACUR melihat seekor ANJING sedang mengelilingi sebuah sumur. Anjing itu menjulurkan lidahnya karena kehausan. Si pelacur lalu membuka sepatunya dan mengisinya dengan air sumur tersebut lalu diberikan kepada anjing tersebut. Wanita itu dimapuni dosa-dosanya” (HR. Muslim)


4. Walau SEDIKIT atau BERKATA-KATA BAIK saja adalah SEDEKAH yang akan MENYELAMATKAN dari API NERAKA.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya:
“Jauhilah api neraka meskipun hanya (bersedekah) dengan SEPAROH KURMA. Jika kamu tidak menemukannya, maka (cukup) dengan KATA-KATA yang BAIK.”
[HR. Bukhari (6023), Muslim (7/101), Ahmad, (4/256), Nasa'i (5/75), Darimi (1390), Baihaqi (1/390) dalam kitabnya sunan kubra]


5. Setiap MUSLIM BISA Bersedekah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang artinya: “‘SETIAP MUSLIM bersedekah.’
Para shahabat bertanya, ‘wahai Rasulullah, bagaimana jika TIDAK MAMPU?’, Jawab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘BEKERJALAH dengan tangan sendiri sehingga BERMANFAAT bagi dirinya, lalu ia BERSEDEKAH.’
Para shahabat bertanya, ‘Bagaimana jika TIDAK MAMPU?’, Jawab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘MENOLONG orang yang mempunyai kebutuhan dan yang sedang susah.’
Para shahabat bertanya lagi, ‘Bagaimana jika dia TIDAK DAPAT melakukannya?’, Jawab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘MEMERINTAHKAN berbuat BAIK atau berbuat makruf.’
Para shahabat bertanya lagi, ‘Jika dia TIDAK DAPA melakukannya?’, Jawab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘MENAHAN DIRI dari berbuat buruk, maka hal itu merupakan SEDEKAH bagi DIRINYA.’ (HR. Bukhari dan Muslim)


6. SENYUM, DZIKIR, DAKWAH dan SHOLAT adalah SEDEKAH
Rasulullah SAW bersabda:
“SENYUMMU di hadapan wajah SAUDARAMU adalah SEDEKAH” (Al Hadits)

Walau dengan berdzikir, amar ma’ruf nahi munkar dan sholat.
Abu Dzar r.a. berkata : Nabi saw bersabda : Pada tiap pagi ada kewajiban pada tiap-tiap persendian untuk bersedekah. Dan tiap TASBIH itu sedekah, dan tiap TAHLIL (La ilaha Illallah) itu sedekah, dan tiap TAHMID itu sedekah, dan tiap TAKBIR itu sedekah, dan MENGANJURKAN KEBAIKAN itu sedekah, dan MENCEGAH KEMUNGKARAN itu sedekah, dan CUKUP untuk menggantikan semua itu 2 raka’at sunnat DLUHA.(HR. Muslim)


7. Kepada siapa BERSEDEKAH ?
“ Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang mereka INFAKKAN. Jawablah: "Apa saja harta yang kamu INFAKKAN hendaklah diberikan kepada IBU-BAPAK, kaum KERABAT, anak-anak YATIM, orang-orang MISKIN dan orang-orang yang sedang dalam PERJALANAN (MUSAFIR)." Dan apa saja kebajikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.” (QS. Al-Baqarah : 215)


8. BERSEDEKAH Fi Sabilillah adalah memberikan PINJAMAN yang BAIK kepada Allah SWT.
Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berfirman:
“Siapakah yang mau memberi PINJAMAN kepada Allah, pinjaman yang BAIK (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan LIPAT GANDA yang BANYAK. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.”. (QS. Al-Baqarah: 245)


9. SEDEKAH adalah Tanda KETAKWAAN
Shadaqah adalah tanda dan ciri ketaqwaan seorang muslim.Allah -Ta’ala- berfirman,
“Kitab (Al Quran) Ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang BERTAQWA,. (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan MENAFKAHKAN sebahagian rezki yang kami anugerahkan kepada mereka“. (QS. Al Baqarah : 2-3)

" Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang BERTAQWA, (yaitu) orang-orang yang MENAFKAHKAN (hartanya), baik di waktu LAPANG maupun SEMPIT, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema`afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan." (QS. Ali Imran : 133-134)


10. BERSEDEKAHLAH Selagi BISA Sebagai BEKAL Menuju Akhirat
Allah Ta’ala berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, BELANJAKANLAH (di jalan Allah) sebagian dari rezki yang Telah kami berikan kepadamu SEBELUM datang HARI yang pada hari itu TIDAK ADA LAGI jual beli dan tidak ada lagi syafa’at. dan orang-orang kafir Itulah orang-orang yang zhalim“. (QS. Al Baqarah : 254)


11. Shadaqah Adalah PERISAI Dari Neraka
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
“Handaknya salah seorang diantara kalian MELINDUNGI wajahnya dari NERAKA, sekalipun dengan SEBELAH BIJI KURMA”. [HR. Ahmad. Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Shohih At-Targhib (864)]


12. Shadaqah PENGHAPUS Kesalahan
Setiap anak cucu adam tidak lepas dari kesalahan, namun Allah yang Maha pemurah telah memberikan suatu sebab yang dengannya bisa menghapuskan kesalahan-kesalahan dari anak cucu adam dan sebab tersebut adalah dengan bershadaqah.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :
“Shadaqah itu MEMADAMKAN (menghapuskan) KESALAHAN sebagaimana AIR memadamkan API” [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (3/321), dan Abu Ya’laa. Lihat Shohih At-Targhib (1/519)]


13. Shadaqah PELINDUNG Di Padang Mahsyar
Ketika manusia menanti keputusan di padang mahsyar dan sibuk dengan urusan masing-masing. Manusia pada saat itu tidak peduli lagi dengan orang-orang yang ada di sekitar mereka. Matahari didekatkan dengan jarak satu mil, pada saat itulah seseorang sangat membutuhkan pahala shadaqah yang bisa menaungi mereka.

Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,
“Setiap orang berada dalam NAUNGAN SHADAQAHNYA hingga diputuskan perkara di antara manusia“. [HR. Ahmad, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim. Hadits ini shohih sebagaimana yang dinyatakan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Shohih At-Targhib wa At-Tarhib (872)]


14. Shadaqah PEMADAM Panas Di Alam Kubur
Beliau bersabda :
“Sesungguhnya shadaqah akan MEMADAMKAN PANASNYA kubur bagi pemilik shadaqah”. [HR. Ath-Thobroniy dalam Al-Kabir, dan Al-Baihaqiy. Syaikh Al-Albaniy meng-hasan-kan hadits ini dalam Ash-Shohihah (3484)]


15. Shadaqah Adalah Sebab MALAIKAT MENDOAKAN Seseorang
Rasululullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda :
“Tak ada suatu hari pun seorang hamba berada di dalamnya, kecuali ada dua orang malaikat akan turun; seorang diantaranya berdo’a, “Ya Allah berikanlah GANTI bagi orang yang BERINFAQ”. Yang lainnya berdo’a, “Ya Allah, berikanlah KEHANCURAN bagi orang yang MENAHAN INFAQ.”. [HR. Al-Bukhoriy dan Muslim ]


16. Termasuk Tujuh Golongan yang DINAUNGI

“Pada hari, ketika ruh dan para malaikat berdiri bershaf-shaf, mereka tidak berkata-kata kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Pemurah; dan ia mengucapkan kata yang
benar”.(QS.An-Naba’: 38)

“Dan (pada hari itu) kamu lihat tiap-tiap umat berlutut. Tiap-tiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya. Pada hari itu kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan”. (QS. Al-Jatsiyah: 28)

Belum lagi matahari didekatkan dengan sedekat-dekatnya. Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda, Ketika itulah para hamba menunggu dan mengharapkan perlindungan dan naungan dari Rabb-nya. Diantara golongan yang mendapatkan naungan saat itu, orang yang ikhlas bershodaqoh.

Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,
“Tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah pada hari kiamat yang mana tidak ada naungan selain naungan Allah….seseorang yang BERSHODAQAH dengan suatu shadaqoh yang ia RAHASIAKAN sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa-apa yang telah dishadaqohkan oleh tangan kanannya”. [HR. Al-Bukhariy dalam Shohih-nya (629), Muslim dalam Shohih-nya (1032)]

Sahabat Hikmah...
Sungguh agung dan besar keutamaan berhadaqah, akan tetapi suatu amalan tidak akan menjadi agung, tanpa disertai dengan niat yang IKHLASH dan SESUAI TUNTUNAN Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

Semoga Allah memudahkan kita untuk bershadaqah baik shadaqah berupa materi, tenaga, pikiran maupun berupa ucapan. Amin…

Wallahu a'lam bishowab

Wassalam



(OFA)

Undang-Undang Penodaan Agama

Undang-undang No. 1/PNPS/1965 yang selama ini menjadi payung hukum atas penindakan terhadap kegiatan penodaan atau penyelewengan terhadap agama digugat oleh tujuh LSM dan diujimaterikan ke Mahkamah Konstitusi hari ini, Kamis ((4/2/2010). Ratusan massa yang tergabung dalam Forum Umat Islam (FUI) menggelar unjuk rasa dalam rangka mengawal agar MK tidak mengabulkan permohonan penghapusan UU tersebut.

Ketujuh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang mengajukan uji materi terhadap UU No. 1/PNPS/1965 adalah IMPARSIAL, ELSAM, PBHI, Demos, Perkumpulan Masyarakat Setara, Desantara Foundation, dan YLBHI. Selain tujuh LSM itu, adapula tokoh yang ikut menggugat, yaitu (alm) Gus Dur, Musdah Mulia, Dawam Raharjo, dan Maman Imanul Haq. Mereka memberikan kuasa kepada Asfinawati, dkk untuk mengajukan uji materi kepada MK. Ada lima norma yang diajukan untuk uji materi yaitu: pasal 1, pasal 2 ayat (1) dan (2), pasal 3, dan pasal 4. Kelima norma tersebut dikonfrontasikan dengan sembilan norma pada UUD 1945 sebagai alat uji, yaitu: pasal 1 ayat (3), pasal 27 ayat (1), pasal 28D ayat (1), pasal 28E ayat (1), (2) dan (3), pasal 28I ayat (1) dan (2), dan pasal 29 ayat (2). Para pemohon ini meminta kepada MK untuk menyatakan bahwa pasal-pasal yang tertuang dalam UU No.1/PNPS/1965 bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum yang mengikat dengan segala akibat hukumnya.

Sidang yang digelar pada pukul 10.00 WIB di Gedung Mahkamah Konstitusi hari ini mengagendakan mendengarkan keterangan pemerintah, DPR, dan pihak terkait (MUI, PP Muhammadiyah, dan PGGI). Menurut pemerintah, yang diwakili oleh Menteri Agama, Suryadharma Ali, dan Menkumham, Patrialis Akbar, UU No.1/PNPS/1965 tidak bertentangan dengan UUD 1945 dan memohon MK agar tidak mengabulkan permohonan para pemohon. Suryadharma Ali menyebutkan, “UU a quo sangat diperlukan keberadaannya guna mewujudkan ketentraman kehidupan harmonis, kerukunan dan toleransi antarumat beragama.”

Lebih lanjut, pemerintah mengungkapkan UU No.1/PNPS/1965 walaupun diterbitkan pada masa darurat, tetap dapat dijadikan payung hukum agar tidak ada yang melakukan tindakan penodaan, penistaan, atau penyelewengan terhadap agama. Sebaliknya, jika UU ini ditiadakan, aparat penegakan hukum akan kehilangan pijakan peraturan untuk menindak para penyeleweng agama tersebut. Dengan demikian, pemerintah menguatkan bahwa para pemohon tidak mempunyai kedudukan hukum (legal standing) untuk mengajukan uji materi UU tersebut dan agar MK menolak permohonan tersebut.

Di lain pihak, MUI yang hadir sebagai pihak terkait menguatkan bahwa para pemohon tidak mempunyai kedudukan hukum untuk mengajukan uji materi UU tersebut karena dalam aktivitasnya tidak disebutkan menjalankan kegiatan keagamaan. Oleh karena itu, tidak ada hak-hak konstitusional mereka yang dilanggar oleh UU No.1/PNPS/1965 yang diterbitkan pada masa Presiden Soekarno tersebut.

Sementara itu, di luar ruang sidang, massa dari Forum Umat Islam tampak memadati pelataran Gedung Mahkamah Konstitusi. Mereka yang terdiri dari Laskar Pemuda Islam, GARIS, FPI, dkk, bahkan siap untuk menghadang AKKBB (Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan) yang berada di balik gugatan uji materi UU tersebut.

“Dengan keberadaan UU pencegahan/penodaan/penistaan agama saja saat ini berbagai aliran sesat dan menyimpang masih bisa tumbuh menjamur bagaikan cendawan di musim hujan. Bagaimana bila UU ini dihapuskan??”, begitu tertulis dalam rilis FPI.
Setali tiga uang dengan ormas Islam lain, PP Muhammadiyah juga menegaskan menolak seluruh permohonan para pemohon ditinjau dari aspek filosofis, sosiologis, teologis, dan yuridis.
“Muhammadiyah berpendapat bahwa kebebasan beragama (religious freedom) bukanlah kebebasan tanpa batas,” ujar PP Muhammadiyah yang diwakili oleh Saleh P. Daulay, Abdul Mu'ti, Muhajir Shodruddin, dan Abu Bakar J. Lamatapo.

Kita tunggu saja, semoga MK dapat memberikan keputusan yang terbaik yaitu dengan menolak permohonan tujuh LSM tersebut yang notebene berpaham liberal supaya tidak menjamur lagi paham-paham sesat di Indonesia. (ind)

sumber: www.eramuslim.com

Tentang Sebuah Ilmu

Dari Ali Bin Abi Thalib:
 
Ilmu lebih utama daripada harta, ilmu adalah pusaka para Nabi, sedangkan harta adalah pusaka Fir’aun dan Qorun
Ilmu lebih utama daripada harta, karena ilmu itu akan menjagamu sementara harta malah engkau yang harus menjaganya
Ilmu lebih utama daripada harta, karena pemilik harta bisa mengaku menjadi Tuhan akibat harta yang dimilikinya, sedang orang berilmu justru mengaku sebagai hamba
Ilmu lebih utama daripada harta, karena di akhirat nanti pemilik harta akan dihisab sedang orang berilmu akan memperoleh syafaat
Harta itu jika engkau berikan menjadi berkurang, sebaliknya ilmu jika engkau berikan maka akan bertambah
Pemilik harta itu musuhnya banyak, sedangkan pemilik ilmu temannya banyak
Harta akan hancur berantakan karena lama ditimbun zaman tetapi ilmu tak akan rusak dan musnah walau ditimbun zaman
Harta membuat hati seseorang menjadi keras, sedang ilmu malah membuat hati bercahaya..
 
Mari kita bersemangat untuk mencari ilmu, karena ilmu pengetahuan tak datang begitu saja, tapi kitalah yang harus mencarinya...._

dari sebuah catatan seorang teman.....

Dari Ali Bin Abi Thalib:

PELAJARAN KISAH RASULULLAH DENGAN BUAH LIMAU

Rasulullah dan Buah Limau

Suatu Hari Rasulullah SAW didatangi oleh seorang wanita kafir. Ketika itu baginda bersama beberapa orang sahabat. Wanita itu membawa beberapa biji buah limau sebagai hadiah untuk Baginda. Cantik sungguh buahnya. Siapa terlihat pasti terliur. Baginda menerimanya dengan senyuman gembira.Hadiah itu dimakan oleh Baginda Rasulullah SAW seulas demi seulas dengan senyuman.

Biasanya Rasulullah SAW akan makan bersama para sahabat, namun kali ini tidak. Tidak seulas pun limau itu diberikan kepada mereka. Rasulullah SAW terus makan. Setiap kali dengan senyuman, hinggalah habis semua limau itu. Kemudian wanita itu meminta diri untuk pulang, diiringi ucapan terima kasih dari baginda. Sahabat-sahabat agak hairan dengan sikap Rasulullah SAW itu. Lalu mereka bertanya.

Dengan senyuman Rasulullah menjelaskan 'Tahukah kamu, sebenarnya buah limau itu terlalu masam semasa saya merasainya kali pertama. Kiranya kalian turut makan bersama, saya bimbang Ada di antara kalian akan mengenyitkan Mata atau memarahi wanita tersebut. Saya bimbang hatinya akan tersinggung. Sebab itu saya habiskan semuanya'.Begitulah akhlak Rasullullah SAW.

Baginda tidak akan memperkecil- kecilkan pemberian seseorang biarpun benda yang tidak baik, Dan dari orang yang bukan Islam pula.

"Selemah- lemah manusia ialah org yg tidak dapat mencari sahabat... Dan orang yg lebih lemah dari itu ialah orang yg menyianyiakan sahabat yang telah dicari dan berburuk sangka pula kepadanya"(-Sayidina Ali)